bulu tangkis

Sejarah Bulu Tangkis

Posted on

Indonesia terhitung negara papan atas dunia dalam olahraga bulu tangkis. Dari generasi ke generasi, senantiasa ada pebulutangkis Indonesia yang membuat prestasi, terhitung menuliskan histori dengan mencapai sepasang medali emas di Olimpiade 1992.

Badminton waktu ini menduduki posisi ke-16 jadi olahraga paling tenar di pelosok dunia. Badminton belum seterkenal sepakbola, basket, atau tinju, namun kemajuan olahraga tepok bulu ini cukup sangat cepat serta mulai diketahui makin banyak orang.

Faktanya, sekian banyak negara yang awal mulanya bukan terhitung jago di pertandingan badminton internasional mulai tunjukkan penambahan bermakna, seperti Inggris, Jepang, India, atau Thailand. Sekian lama ini, badminton semakin didominasi oleh Cina, Indonesia, Malaysia, Korea Selatan, dan Denmark. Indonesia miliki rangkaian catatan emas dalam sejarah badminton yang saat ini satu diantaranya tengah diemban oleh ganda putra Kevin Sanjaya serta Marcus Gideon.

Histori Bulu Tolak Bagian khusus dalam olahraga badminton yaitu raket, shuttlecock (kok), net, serta lapangan jadi ruang kompetisi. Akan tetapi, badminton pada waktu awal dulu tentulah memanfaatkan perabotan yang belum seperti saat ini. Badminton nyatanya udah berumur begitu lama serta punya akar di sebagian peradaban lama, seperti Yunani Kuno, Mesir Kuno, sampai Cina sejak mulai Sebelum Masehi. Di Cina tempo dahulu, misalkan, ada permainan yang memiliki nama jianzi, memanfaatkan shuttlecock simple akan tetapi miliki trik main berlainan dari badminton. Dalam jianzi, pemain mengusahakan mengendalikan shuttlecock sepanjang barangkali di udara dengan memanfaatkan kaki. Dan berdasar catatan Bernard Adams dalam The Badminton Story (1980), badminton mulai bertumbuh di India pada zaman ke-17.

Waktu itu, permainan ini yang diketahui dengan nama battledore. Trik memainkannya yaitu, 2 orang tanding memukul buntalan wol jadi shuttlecock dengan tongkat simple jadi raket serta mengusahakan biar buntalan wol itu tak jatuh ke tanah. Pada zaman ke-18 M, battledore merasakan kemajuan waktu Inggris menduduki India, yang oleh penduduk lokal dikatakan poona. Poona datang dari kata Pune, satu diantara kota di India yang dipercayai berubah menjadi tempat asal permainan itu.

Jaman Badminton Kekinian Beberapa orang Inggris yang sudah pernah bertempat di India setelah itu bawa permainan ini ke negara mereka. Poona lantas bertumbuh serta berubah menjadi cukup tenar di Britania pada tengah zaman ke-19. Di Inggris masa itu, poona kerap dimainkan di Badminton House yang bertempat di Gloucestershire.

Badminton Hoise yaitu tempat tinggal Duke of Beaufort serta trahnya. Dari sini nama badminton tercetus buat mengatakan permainan yang awalnya yang memiliki nama poona atau battledore itu. Pada awal 1860, dilansir dari buku A Brief History of Badminton from 1870 to 1949 (2016) karya Betty Uber, seseorang entrepreneur mainan asal London yang memiliki nama Isaac Spratt sebarkan pamflet yang ditulis “Badminton Battledore: A New Game”.

Dalam selebarannya itu, Spratt menerangkan rumusannya terkait tata trik main badminton bersama segala peraturannya. Kebijakan baru ini berlainan dengan peraturan lama yang dipraktekkan dalam permainan poona ataupun battledore. Artikel dalam majalah The Cornhill Magazine terbitan tahun 1863 mendeskripsikan badminton jadi “permainan battledore yang dimainkan dengan dua segi, yang terpisahkan dengan penyekat setinggi lima kaki dari permukaan tanah.” Dari sini jaman badminton kekinian mulai.

Dari IBF Berubah menjadi BWF Pertandingan badminton terbuka pertama di dunia diselenggarakan pada 1898 di Guildford, Inggris. Pesta ini nyatanya digandrungi serta diselenggarakan lagi dengan prinsip yang bertambah besar pada 1899 di London’s Holticultural Halls dengan nama All England. Sampai saat ini, All England terhitung pertandingan badminton paling berkelas di dunia.

Akan tetapi, masa itu belumlah ada organisasi yang memayungi olahraga tepok bulu dalam skema internasional. Jadi, seperti dicatat Pratibha Mittal dalam Badminton: Rules and Regulations (2015), pada 1934 dibuat International Badminton Federation (IBF) bertindak sebagai induk olahraga badminton dunia. Anggota pemuka IBF ada 9 negara, ialah Kanada, Denmark, Perancis, Belanda, Inggris, Selandia Baru, Irlandia, Skotlandia, serta Wales.

Dan Amerika Serikat masuk 4 tahun seterusnya. Indonesia waktu itu belum merdeka serta masih jadi koloni Belanda dengan nama Nederland Indie atau Hindia Belanda. Dalam Kongres Luar Biasa pada 24 September 2006 di Madrid, Spanyol, disetujui kalau IBF berpindah nama berubah menjadi Badminton World Federation (BWF) dengan jumlah anggota sejumlah 176 negara.

Emas RI di Olimpiade Badminton sempat pernah digelar jadi cabang olahraga uji-coba di Olimpiade Munich (Jerman) pada 1972. Indonesia bisa mendonasikan dua medali emas lewat Rudy Hartono (tunggal putra) dan pasangan Ade Chandra/Christian Hadinata (ganda putra). Badminton baru berubah menjadi satu diantara cabang olahraga sah Olimpiade pada 1992 di Barcelona, Spanyol.

Di peluang pertama itu, Indonesia sukses memadukan dua medali emas dari bidang tunggal putra serta putri lewat Alan Budikusuma serta Susi Susanti. Diluar itu, medali perak digapai oleh Ardy B. Wiranata dari bidang tunggal putra dan pasangan Eddy Hartono/Rudy Gunawan dari bidang ganda putra. Tunggal putra yang lain, Hermawan Susanto, bawa pulang medali perunggu.

Di selama gelaran Olimpiade sejak mulai 1992 sampai 2016, Indonesia cuma tidak sukses memberikan medali emas pada 2012 di London. Selebihnya, medali emas senantiasa dapat dibawa pulang ke tanah air. Banyak penyumbang medali emas Olimpade buat Indonesia itu yaitu Rexy Mainaky/Ricky Subagja (1996) serta Tony Gunawan/Candra Wijaya (2000) dari bidang ganda putra. Setelah itu Taufik Hidayat (2004) dari bidang tunggal putra.

Ganda putra Indonesia kembali lagi mencapai medali emas lewat Hendra Setiawan/Markis Kido (2008). Sempat pernah tidak sukses di London pada 2012, Indonesia mendapat medali emas lagi di Olimpiade 2016 Rio de Janeiro melalui ganda paduan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Keseluruhan, sejak mulai Olimpiade 1992, Indonesia menghimpun 19 medali dari acara pesta olahraga paling besar dunia itu, itu belum terhitung medali yang digapai pada Olimpade 1972 berkat tak dihitung dengan sah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *